Kalimantan Tengah-http://Burusergap.co.id Saat ini sedang tidak baik-baik saja. Ancaman narkoba bukan lagi sekadar cerita di kota besar atau sekadar berita kriminalitas di media massa.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Ia telah merambah hingga ke pelosok desa, kawasan perkebunan kelapa sawit, hingga area pertambangan yang jauh dari jangkauan. Minggu, 19/04/2026
Ketika peredaran barang haram ini sudah menyentuh level akar rumput, maka alarm bahaya bukan lagi berbunyi, melainkan sudah menjerit.
Di tengah situasi ini, sorotan publik mau tidak mau tertuju pada kepolisian sebagai garda terdepan penegakan hukum.
Namun, saya ingin memberikan catatan kritis khusus kepada Direktorat Intelijen Keamanan (Intelkam) Polda Kalimantan Tengah.
Mengapa? Karena dalam perang melawan narkoba, intelijen adalah otak dari sebuah operasi.
Jika otaknya tidak tajam, maka tangan dan kaki penindakan akan bergerak meraba-raba dalam kegelapan.
### Intelijen: Bukan Sekadar Pencatatan, Tapi Prediksi
Ada kesan bahwa kinerja intelijen saat ini masih terjebak pada pola reaktif—mengumpulkan data setelah kejadian atau sekadar mendata peristiwa yang sudah viral.
Padahal, esensi dari fungsi *Early Warning System* (deteksi dini) adalah memprediksi sebelum itu terjadi.
Jika narkoba terus masuk dan merajalela, pertanyaan mendasarnya adalah: Di mana *mapping* (pemetaan) jaringan mereka?
Apakah jaringan distribusi, jalur tikus, hingga pola pergerakan para bandar tidak terdeteksi oleh radar Intelkam?
Jika intelijen bekerja dengan optimal, seharusnya pergerakan sindikat sudah terbaca sebelum narkoba sempat diedarkan, bukan menunggu transaksi terjadi lalu menangkap kurir kelas teri di pinggir jalan.
### Memutus Rantai, Bukan Hanya Memotong Ujung
Kritik tajam yang perlu kita sampaikan kepada Intelkam Polda Kalteng adalah perlunya pergeseran paradigma dari *sekadar penindakan* menjadi *pemutusan rantai*.
Publik sering kali merasa jengah melihat penangkapan yang hanya menyasar pengguna atau kurir kecil. Sementara, “bandar besar” atau “pemain utama” sering kali tidak tersentuh.
Intelkam memegang kunci untuk membongkar jaringan ini.
Produk intelijen yang dihasilkan harus mampu memberikan “cetak biru” jaringan narkoba kepada tim penindakan (Satresnarkoba).
Jika produk intelijen ini lemah, maka operasi penindakan akan terus meleset dari target utamanya. Inilah yang perlu dievaluasi: **Apakah data yang dikumpulkan intelijen sudah “matang” dan akurat untuk menghancurkan sindikat dari akarnya?**
### Membangun Kembali Kepercayaan Rakyat
Intelijen yang kuat hanya bisa terbangun jika memiliki jaring informasi (informan) yang luas dan solid.
Keberhasilan intelijen di lapangan sangat bergantung pada kedekatan dengan masyarakat.
Jika masyarakat Kalteng saat ini enggan melapor atau skeptis dengan aparat, ini adalah sinyal bahaya bagi Intelkam.
Artinya, ada jurang komunikasi yang lebar. Intelkam Polda Kalteng perlu melakukan “jemput bola” dan membangun kembali kepercayaan publik.
Jadikan masyarakat sebagai mata dan telinga yang aktif, bukan objek yang diabaikan.
Ketika masyarakat merasa bahwa setiap laporan mereka ditindaklanjuti dengan serius dan rahasia mereka terjaga, maka peredaran narkoba akan semakin sulit bersembunyi.
### Penutup
Kritik ini bukanlah serangan, melainkan sebuah bentuk kepedulian.
Kita semua ingin Kalimantan Tengah menjadi tanah yang aman bagi generasi penerus kita, bukan sarang narkoba.
Kepada Polda Kalteng, khususnya Direktorat Intelkam, saatnya untuk “bangun” dan melakukan evaluasi internal secara komprehensif.
Perang melawan narkoba adalah perang yang tidak bisa dimenangkan dengan cara-cara lama.
Dibutuhkan ketajaman analisis, data yang mutakhir, sinergi yang solid, dan yang terpenting: keberanian untuk membersihkan siapa pun yang bermain di balik layar.
Publik menunggu hasil nyata. Jangan biarkan masa depan Kalimantan Tengah hancur karena intelijen yang kurang awas.(Bony A/Red)


















