banner 728x250
Berita  

Ketika Pena Ditikam dari Belakang: Musuh Wartawan Ternyata Sejawat Sendiri* *OPINI | PALANGKA

banner 120x600
banner 468x60

 

*OPINI | PALANGKARAYA* –http://Burusergap.co.id Musuh terbesar kebenaran bukan peluru. Bukan juga tekanan penguasa. Musuh paling menyakitkan bagi wartawan hari ini justru datang dari meja sebelah: rekan sejawat yang berkhianat.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
banner 325x300

Apa yang terjadi ketika jurnalis yang membongkar borok kekuasaan malah dijegal oleh teman satu redaksi? Ketika fakta lapangan yang sudah susah payah dikumpulkan, justru dikaburkan oleh narasi tandingan dari sesama pembawa pena?

*Dari Penjaga ke Penjilat*

Investigasi adalah nyawa jurnalisme. Tapi nyawa itu pelan-pelan dicekik. Bukan oleh objek berita, melainkan oleh faksi “jurnalisme stempel” di dalam ruang redaksi sendiri.

Mereka yang dulu bersumpah membela publik, kini lebih lihai mengamankan kursi empuk dan fasilitas. Hubungan harmonis dengan narasumber ternyata lebih menggoda daripada kebenaran yang pahit. Gesekan ini bukan soal beda angle. Ini perang antara moralitas melawan pragmatisme.

*Solidaritas Palsu yang Membunuh*

“Sejarah akan mencatat,” kalimat itu sering terdengar gagah. Tapi di lapangan, wartawan kritis justru dikucilkan. Teman jadi lawan hanya karena menolak berdamai dengan penyimpangan.

Solidaritas profesi kini dibajak. Bukan untuk membela kebenaran, tapi menutupi kesalahan. Investigasi dianggap ancaman bagi mereka yang hidup dari amplop dan kemudahan akses karena rajin menjilat.

Pertanyaannya: sejak kapan pena lebih tajam menusuk punggung kawan sendiri daripada membedah kebusukan kekuasaan?

*Sendiri di Persimpangan Jalan*

Jurnalisme adalah profesi moral. Jika wartawan lebih piawai memuji penguasa ketimbang membedah fakta, maka pilar keempat demokrasi telah roboh dari dalam.

Gesekan dari kawan sejawat adalah ujian api. Dan sejarah memang akan mencatat. Bukan mereka yang naik jabatan karena lihai memuji, melainkan mereka yang tetap berdiri tegak meski harus berjalan sendirian.

Karena di negeri ini, jujur kadang berarti siap ditikam dari belakang. Oleh tangan yang dulu menggenggam pena bersama.

*(Tim/Red)*
*Editor: Bony A*

banner 325x300
error: Content is protected !!